Selain Bjorka, Berikut 5 Kasus Hacker yang Pernah Mengobrak-Abrik Rahasia Negara Indonesia

M Wali
.
Selasa, 13 September 2022 | 10:06 WIB
Ilustrasi Hacker melakukan aksi pembobolan situs'. Foto: MNC Media/iNewsTemanggung.id

JAKARTA, iNewsTemanggung.id - Kasus kejahatan siber di seluruh dunia makin merajalela, tak terkecuali di Indonesia. Baru kemarin, bahkan rahasia negara sekalipun di acak-acak oleh hacker yang mengatasnamakan dirinya Bjorka

Tak hanya data rahasia, Bjorka juga mengklaim dirinya mengungkap informasi sensitif mengenai nama seorang dalang pembunuhan aktivis HAM, yakni Munir Said Thalib alias Munir. Bahkan identitas tokoh politik seperti Johnny G Plate, Erick Thohir hingga Presiden Joko Widodo ia klaim telah berhasil mendapatkannya. 

Tahukah kamu, Indonesia menjadi salah satu sarang korban kasus serangan hacker terbesar? Menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), setidaknya ada 1,6 miliar kasus jebakan siber yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2021.

Banyak yang disasar oleh para hacker di negara kita, mulai dari perusahaan swasta hingga lembaga pemerintahan tak luput menjadi korban. 

Kerugiannya yang terjadi mulai dari  berubahnya tampilan website, hingga berujung kebocoran data masyarakat Indonesia.

Penasaran, seperti apa kasus serangan hacker yang sempat menghantui Indonesia? Berikut 5 Hacker yang pernah menghantui Indonesia. 

1. Serangan Deface Website Sekretariat Kabinet RI

Website milik Sekretariat Kabinet RI yakni setkab.go.id pernah terkena serangan deface. Deface website ini memungkinkan hacker mengubah tampilan situs target sasarannya. Diduga, peretasan ini dilakukan untuk keuntungan ekonomi yakni menjual script backdoor dari website korbannya kepada pihak yang menginginkannya.

Awalnya, situs Setkab.go.id diretas sehingga tak bisa diakses. Tampilan website kemudian berubah menjadi hitam dengan foto demonstran membawa bendera merah putih dan tulisan “Padang Blackhat ll Anon Illusion Team Pwned By Zyy Ft Luthfifake”. Menurut penyelidikan polisi, peretasan ini terjadi akibat kelemahan sistem keamanan dan kelengahan operator. 

2.  DDoS pada Situs DPR RI

Website resmi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), pada 8 Oktober 2020 lalu dpr.go.id sempat error dan tidak bisa diakses. Tampilan situs hanya menampilkan halaman putih dengan pesan “An error occurred while processing your request”.

Setelah ditelusuri, serangan tersebut dikategorikan sebagai DDoS, yaitu tindakan membanjiri lalu lintas pada suatu server atau sistem secara terus menerus, sehingga server tidak mampu mengatur traffic dan down. Ternyata, metode ini dimanfaatkan hacker untuk memasuki website dan melangsungkan deface.

Ketika situs bisa kembali diakses, pengunjung akan melihat perubahan pada nama situs DPR. Aksi itu sempat ramai di Twitter, karena sejumlah akun diketahui sempat mengunggahnya perubahan itu di media sosial. Sebagai penanganan, DPR berkoordinasi dengan Telkom dan Mabes Polri untuk menghalau peretasan.

3. Database Polri di Bobol

pada November 2021, Hacker dengan nama akun @son1x666 mengklaim pernah meretas database polri yang diunggah melalui akun twitternya. 
Dalam cuitannya tersebut, ada 28.000 informasi log in dan data pribadi yang dicuri. Selain itu ada tiga link berisi sampel data yang diduga berasal dari database Polri berisi informasi nama, tempat tanggal lahir, nomor registrasi pokok, alamat, golongan darah, satuan kerja, suku, alamat email, pangkat, hingga pelanggaran anggota.

Menanggapi hal ini, Polri telah memastikan data internal dan sistem keamanan Polri tetap aman. Menurut investigasi, peretasan ini dilakukan oleh hacker yang dikenal seringkali menyerang situs pemerintah di dunia untuk menunjukkan eksistensinya dan bentuk protes ketidakadilan pemerintah terhadap rakyat.

4. Bocornya data e-HAC Kemenkes

Pada Juli 2021, aplikasi Electronic Health Alert (e-HAC) buatan Kemenkes RI juga ikut menjadi korban kasus serangan siber akibat ulah para hacker. Aplikasi kartu kewaspadaan kesehatan yang menjadi syarat masyarakat bepergian ini mengakibatkan 1,3 juta data masyarakat Indonesia bocor.

Selain bocornya data pengguna e-HAC, kasus ini mengakibatkan data tes Covid-19 penumpang, data rumah sakit, hingga data staf e-HAC juga ikut terungkap. Diduga, serangan ini terjadi akibat kurangnya protokol keamanan aplikasi yang memadai dan penggunaan database Elasticsearch yang dianggap kurang aman untuk menyimpan data.

5.Data Pengguna Tokopedia Bocor ke Dark Web

Korban kasus serangan hacker di Indonesia selanjutnya dialami oleh perusahaan e-commerce buatan anak bangsa, Tokopedia. Pada awal Mei 2020, Tokopedia mengalami kebocoran data terhadap 91 juta akun penggunanya dan 7 juta akun merchant.

Data yang berisi nama lengkap, nama akun, email, toko online, tanggal lahir, nomor HP, tanggal mendaftar, serta beberapa data yang terenkripsi berbentuk hash ini diperjualbelikan di dark web seharga USD5.000 atau Rp70 juta.  Tokopedia kemudian segera memeriksa kasus ini dan menyarankan penggunanya untuk rutin mengganti password akun.

Berikut adalah kasus hacker yang pernah terjadi di Indonesia, untuk itu jaga selalu data pribadimu. Jangan sampai website kamu jadi salah satu korban di antaranya.

Editor : M Wali
Bagikan Artikel Ini